Mesin inferensi


Ada dua metode inferensi dalam sistem pakar, yaitu runut maju (forward chaining) dan runut balik (backward chaining). Inferensi merupakan proses untuk menghasilkan informasi dari fakta yang diketahui atau diasumsikan. Ketika representasi pengetahuan pada bagian knowledge base telah lengkap, atau paling tidak berada pada level yang cukup akurat, maka representasi pengetahuan tersebut telah siap digunakan .
Kebanyakan sistem pakar berbasis aturan menggunakan strategi inferensi yang modus ponen.

Berdasarkan strategi ini, jika terdapat aturan “IF A THEN B”, dan jika diketahui bahwa A benar, maka dapat disimpulkan bahwa B juga benar.

1. Runut Maju (Forward Chaining)
Berarti menggunakan himpunan aturan kondisi aksi. Dalam metode ini, data digunakan untuk menentukan aturan mana yang akan dijalankan, kemudian aturan tersebut dijalankan . Mungkin proses menambahkan data ke memori kerja. Proses diulang sampai ditemukan suatu hasil (wilson, 1998). Metode inferensi runut maju cocok untuk menangani masalah pengendalian (controling) dan peramalan (diagnosis) (Giarattano dan riley).

2. Runut balik (Backward Chaining) C AND bau busuk saat hewan bernafas AND saat pemeriksaan daerah paru-paru terdapat suara tidak normal THEN Radang Paru-paru/Pheunomia
Merupakan metode penalaran kebalikan dari runut maju. Dalam runut balik, penalaran dimulai dengan tujuan, merunut balik ke jalur yang mengarah ke tujuan tersebut (Giarattano dan riley, 1994). Tujuan dari inferensi ini adalah mengambil pilihan yang terbaik dari banyak kemungkinan. Metode inferensi runut balik ini cocok digunakan untuk memecahkan masalah diagnosis (Schnupp, 1989).

2 thoughts on “Mesin inferensi

  1. nice info..sebenarnya dalam pembuatan sebuah sistem pakar, problem yang tak kalah besar adalah proses akuisisi dari Si Pakar. Si Engineer (dalam hal ini, kita-pembuat sistem) harus melakukan berbagai macam pendekatan (terhadap pakar, tentunya). Hal ini dikarenakan, sebagian besar, bahkan hampir secara keseluruhan,pakar yang ilmunya akan kita akuisisi tidak boleh berupa buku, dan harus benar2 pakarnya.

    nah untuk teknis pembuatan sistem, bisa digunakan (yang paling sederhana) CLIPS.

    oh iya…salam kenal, heru-IlkomIPB

    • Ya betul sekali,, selain buku sebagai Pedoman,, Proses pembuatan program atau untuk proses akuisisi dari si pakar tentu saja harus berhubungan langsung dengan sang pakar,, karena Sistem Pakr harus menunjukkan Faktanya.

      Terimakasi atas komentarnya,, salam kenal balik dari saya “Widy”
      Senang bisa mendapat Komentar dari Mas Heru,,

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s